Nama Anggota Kelompok : Dimas Prasetya dan Andhika Noval Adriansyah
Masa Kependudukan Jepang di Indonesia
1. Masa awal kedatangan Jepang
Awal kedatangan Jepang ke Indonesia berawal dari keinginan mereka untuk mendirikan Persemakmuran Asia Timur Raya. Keinginan ini ditunjukkan melalui serangan Jepang ke pangkalan militer Amerika Serikat di Pearl Harbour, Kepulauan Hawaii pada 8 Desember 1941. Jepang bertujuan untuk menaklukkan Asia Pasifik.
di awal kedatangannya juga jepang bisa dengan cepat mengerti budaya lokal dan menghubungkan segala peristiwa sebagai dampak dari hal-hal yang bersifat metafisis. Contohnya, Jepang menggunakan ramalan Jayabaya tentang datangnya bangsa kulit kuning yang akan mengusir bangsa kulit putih, Propaganda lainnya adalah, Jepang menyebut diri mereka sebagai saudara tua bagi Indonesia. Setelah itu lahir gerakan 3A, yaitu Jepang Cahaya Asia, Jepang Pelindung Asia, dan Jepang Pemimpin Asia.
2. Faktor Jepang melakukan Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia
a. Faktor Jepang melakukan Imperialisme dan Kolonialisme
Imperialisme Menurut definisininya Imperialisme
adalah sebuah kata buatan dari bahasa latin,
imperium yang berarti perintah. Kemudian arti
ini berubah menjadi hak memerintah atau
kekuasaan memerintah. Arti inipun mengalami
perubahan lagi, menjadi daerah di mana
kekuasaan memerintah itu dilakukan
(Kartodirjo, 1999.8).
Imperialisme menonjolkan sifat-sifat
keunggulan (hegemoni) oleh satu bangsa
atas bangsa lain. Tujuan utama imperialisme
adalah menambah hasil ekonomi.
Negara-negara imperialis ingin memperoleh
keuntungan dari negeri yang mereka kuasai
karena sumber ekonomi negara mereka tidak
mencukupi. Faktor lain yang menyumbang pada
dasar imperialisme adalah adanya perasaan
ingin mencapai taraf sebagai bangsa yang besar
dan memerintah dunia, misalnya dasar
imperialisme Jepang. (Kartodirjo, 1999.8).
Ditinjau dari bentuknya menurut Guy
Wint (1996.175). Imperialisme bertujuannya untuk bisa menguasai segala aspek kehidupan dalam masyarakat, baik politik, ekonomi, sosial, budaya, serta militer. lalu yang memicu Jepang menjadi negara imperialis adalah karena adanya peristiwa Restorasi Meiji pada akhir abad ke-19 yang menjadi latar belakangnya. Sedangkan imperialisme modern
berlangsung sejak Revolusi Industri pada tahun
1870-an. Kelebihan modal dan penuhnya hasil
produksi barang-barang di negara Barat.
Menjadikan negara tersebut mencari wilayah
baru untuk penyuplai bahan baku, serta mencari
pasar baru dalam memasarkan hasil produksi
mereka yang tidak terbendung.
b. Jika imperialisme berupaya untuk
melakukan perluasan wilayah dengan tujuan
ekonomi dan kekuasaan. Kolonialisme adalah
perpanjangan tangan dari imperialisme dengan
bermaksud memaksakan satu bentuk
pemerintahan atas sebuah wilayah atau negeri
lain (tanah jajahan) atau satu usaha untuk
mendapatkan sebuah wilayah baik melalui
paksaan atau dengan cara damai.
Usaha untuk mendapatkan wilayah
biasanya melalui penaklukan. Penaklukan atas
sebuah wilayah bisa dilakukan secara damai
atau paksaan baik secara langsung maupun
tidak langsung. Pada mulanya mereka membeli
barang dagangan dari penguasa lokal, untuk
memastikan
Pasokan barang dapat berjalan lancar
mereka kemudian mulai campur tangan dalam
urusan pemerintahan penguasa setempat dan
biasanya mereka akan berusaha menjadikan
wilayah tersebut sebagai tanah jajahan mereka.
Negara yang menjajah menggariskan panduan
tertentu atas wilayah jajahannya, meliputi
aspek kehidupan sosial, pemerintahan,
undang-undang dan sebagainya.
latar belakang penjajahan Jepang di Indonesia adalah untuk menguasai sumber daya alam, terutama minyak bumi, guna mendukung industri dan kampanye perang Jepang. dikarenakan Jepang kekurangan pasukan jadi Jepang melakukan yang bernama organisasi militer dan semi militer untuk guna menambah pasukan Jepang. Kedatangan bala tentara Jepang sempat
disambut baik rakyat Indonesia yang
memimpikan kemerdekaan dari kolonialisme
Belanda. Namun, impian tersebut tidak pernah
terwujud, justru tentara Jepang memaksa rakyat
Indonesia untuk mendukung mereka guna
memenangkan perang di Asia Pasifik.
Dukungan yang dipaksakan tersebut antara lain
berupa logistik dan tenaga manusia untuk
membangun infrastruktur bagi proses
pembangunan pertahanan perang dan industri
Jepang.
Pengerahan tenaga manusia dilakukan
secara paksa dengan mengumpulkan
laki-laki berusia 16-40 tahun untuk dijadikan
budak pekerja melalui sistem romusha.
Sedangkan para perempuan dijadikan Jugun
Ianfu atau budak seks. Sumber :https://repositori.kemdikbud.go.id/11455/1/4.%20Bung%20Hatta-%20Oslan%20Amril%20-Jepang.pdf
3. Kehidupan Sosial Politik Ekonomi Budaya Masa Jepang
a. Kehidupan Bangsa Indonesia di Bidang Sosial
Kehidupan sosial masyarakat sangat
memperihatinkan, penderitaan masyarakat terjadi dimana-mana dan semakin
bertambah, karena segala kegiatan masyarakat dicurahkan untuk memenuhi
kebutuhan perang Jepang dalam menghadapi musuh-musuhnya. Kondisi
memprihatinkannya masyarakat Indonesia ketika zaman pendudukan Jepang,
tidak terlepas dari kebijakan – kebijakan yang dikeluarkan Jepang dalam bidang
sosial, diantaranya :
1. Masyarakat
dijadikan romusha (kerjapaksa), Sehingga
banyak korban
kelaparan dan terkena penyakit.
2. Pelaksanaan Kinrohosi,
yaitu penyerahan bahan
makanan rakyat secara
besar-besaran untuk
kepentingan militer
Jepang. Akibatnya beras
dan berbagai bahan
pangan petani dirampas
Jepang untuk
kepentingan militernya
sehingga banyak
masyarakat yang
menderita kelaparan.
3. Pelaksanaan Jugun
Ianfu, yaitu
mempekerjakan para
gadis dan perempuan
sebagai wanita
penghibur untuk
pemuas nafsu militer
Jepang. Banyak gadis
dan perempuan yang
ditipu oleh Jepang
dengan dalih untuk
bekerja sebagai perawat
atau disekolahkan,
tetapi ternyata hanya
dipaksa untuk melayani para kompetai.
Para gadis dan perempuan tersebut disekap dalam kamp-kamp yang tertutup sebagai wanita penghibur. Sumber : https://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://sman3simpanghilir.sch.id/download/file/Salinan_XI_Sejarah_KD_3_11_Final.pdf&ved=2ahUKEwiOu9-x8uz8AhVUT2wGHbhCBjMQFnoECBkQAQ&usg=AOvVaw2BV48CEBuqc8NIytuQmcAi
b. Kehidupan Bangsa Indonesia di Bidang Ekonomi
Pada waktu Indonesia di bawah pendudukan Jepang, sistem ekonomi yang
diterapkan adalah sistem ekonomi perang. Saat itu Jepang merasa penting untuk
menguasai sumber-sumber bahan mentah dari berbagai wilayah Indonesia.
Tujuan Jepang melakukan itu, untuk menghadapi Perang Asia Timur Raya.
Hal-hal yang diberlakukan dalam sistem pengaturan ekonomi pemerintah Jepang
adalah sebagai berikut:
a. Kegiatan ekonomi diarahkan untuk kepentingan perang maka seluruh
potensi sumber daya alam dan bahan mentah digunakan untuk industri yang
mendukung mesin perang. Jepang menyita seluruh hasil perkebunan, pabrik,
Bank dan perusahaan penting. Banyak lahan pertanian yang terbengkelai
akibat titik berat kebijakan difokuskan pada ekonomi dan industri perang.
Kondisi tersebut menyebabkan produksi pangan menurun dan kelaparan
serta kemiskinan meningkat drastis.
b. Jepang menerapkan sistem pengawasan ekonomi secara ketat dengan sanksi
pelanggaran yang sangat berat. Pengawasan tersebut diterapkan pada
penggunaan dan peredaran sisa-sisa persediaan barang. Pengendalian harga
untuk mencegah meningkatnya harga barang. Pengawasan perkebunan teh,
kopi, karet, tebu dan sekaligus memonopoli penjualannya. Pembatasan teh,
kopi dan tembakau, karena tidak langsung berkaitan dengan kebutuhan
perang. Monopoli tebu dan gula, pemaksaan menanam pohon jarak dan kapas
pada lahan pertanian dan perkebunan merusak tanah.
c. Pembatasan produktivitas tanaman yang tidak menguntungkan perang.
Masyarakat Indonesia diwajibkan untum menanam padi, pohon jarak, dan
kapas, yang nilai jualnya tinggi dan memenuhi kebutuhan perang.
d. Menerapkan sistem ekonomi perang dan sistem autarki (memenuhi
kebutuhan daerah sendiri dan menunjang kegiatan perang dengan otoriter).
Konsekuensinya tugas rakyat beserta semua kekayaan dikorbankan untuk
kepentingan perang. Hal ini jelas amat menyengsarakan rakyat baik fisik
maupun material.
e. Pada tahun 1944, kondisi politis dan militer Jepang mulai terdesak, sehingga tuntutan akan kebutuhan bahan-bahan perang makin meningkat. Untuk mengatasinya pemerintah Jepang mengadakan kampanye penyerahan bahan pangan dan barang secara besar-besaran melalui Jawa Hokokal dan Nagyo Kumia (koperasi pertanian), serta instansi resmi pemerintah. Dampak dari kondisi tersebut, rakyat dibebankan menyerahkan bahan makanan 30% untuk pemerintah, 30% untuk lumbung desa dan 40% menjadi hak pemiliknya. Sistem ini menyebabkan kehidupan rakyat semakin sulit, gairah kerja menurun, kekurangan pangan, gizi rendah, penyakit mewabah melanda hampir di setiap desa di pulau Jawa. Sebagai perlawanan terhadap rasa lapar, telah memaksa bangsa Indonesia memakan keladi gatal, bekicot, umbi-umbian, batang pohon pisang, batang pohon pepaya, dan lain-lain.
c. Kehidupan Bangsa Indonesia di Bidang Aspek Politik
Pada masa pendudukan Jepang, pemerintah Jepang selalu mengajak bekerja sama golongan-golongan nasionalis. Hal ini jelas berbeda dibandingkan pada masa pemerintahan Hindia-Belanda. Saat itu golongan nasionalis selalu dicurigai. Golongan nasionalis mau bekerja sama dengan pemerintahan Jepang karena Jepang banyak membebaskan pemimpin nasional Indonesia dari penjara, seperti Soekarno, Hatta, dan juga Sjahrir.
Kenapa Jepang mengajak kerja sama golongan nasionalis Indonesia? Karena Jepang menganggap bahwa golongan nasionalis ini memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat Indonesia. Saat itu, Wakil Kepala Staf Tentara Keenam Belas, Jenderal Harada Yosyikazu, bertemu dengan Hatta untuk menyatakan bahwa Jepang tidak ingin menjajah Indonesia, melainkan ingin membebaskan bangsa Asia. Karena itulah Hatta mererima ajakan kerja sama Jepang. Akan tetapi, Sjahrir dan dr. Tjipto Mangunkusumo tidak mererima tawaran kerja sama Jepang.
Namun, kemudian Jepang mengeluarkan undang-undang yang terkait pada bidang politik yang justru banyak merugikan bangsa Indonesia. Beberapa di antaranya:
1. Undang-Undang Nomor 2 tanggal 8 Maret tahun 1942, tentang larangan kepada orang Indonesia untuk berserikat dan berkumpul.
2. Undang-undang Nomor 3 tanggal 10 Mei tahun 1942, tentang larangan kepada orang-orang Indonesia untuk memperbincangkan pergerakan atau propaganda perihal peraturan dan susunan Negara.
3. Undang-undang tanggal 22 Juli tahun 1942, tentang larangan pendirian organisasi yang bersifat politik. Sumber : https://www.ruangguru.com/blog/kehidupan-bangsa-indonesia-masa-pendudukan-jepang
d. Kehidupan Bangsa Indonesia di Bidang Budaya
Penderitaan rakyat bertambah karena segala kegiatan rakyat dicurahkan untuk memenuhi kebutuhan perang Jepang dalam menghadapi musuh-musuhnya. Terlebih rakyat dijadikan pekerja romusha (kerja paksa zaman Jepang) sehingga banyak jatuh korban akibat kelaparan dan penyakit. Beberapa akibat pendudukan Jepang bidang sosial budaya antara lain:
-Kesulitan proses komunikasi antarpulau dan dunia luar karena semua saluran komunikasi dikendalikan Jepang.
-Semua nama-nama kota yang menggunakan bahasa Belanda diganti Bahasa Indonesia seperti Batavia menjadi Jakarta dan Buitenzorg menjadi Bogor. -Kebijakan Kinrohoshi yaitu tradisi kerja bakti secara massal pada masa pendudukan Jepang. -Mendirikan pusat kebudayaan Keimin Bunka Shidoso pada 1 April 1943 untuk mengawasi karya para seniman agar tidak menyimpang dari tujuan Jepang.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Akibat Pendudukan Jepang di Bidang Sosial Budaya", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/skola/read/2020/03/26/200000469/akibat-pendudukan-jepang-di-bidang-sosial-budaya?page=all&jxconn=1*6d6hyv*other_jxampid*T2hyOU5XRjUxMVFYbDZBWkxPQ29SSndnYUZXdkstNmxsQ251QnBlOF9vb3dLRmdRR0t1LVgyc1FmM2F4U3JSXw..#page2
Komentar
Posting Komentar